Daerah Way Kanan

Way Kanan Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla dan Kekeringan

30
×

Way Kanan Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla dan Kekeringan

Sebarkan artikel ini

Blambangan Umpu, Indobarometer.id- 

Pemkab Way Kanan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah menegaskan, penanganan bencana tidak boleh menunggu kejadian.

Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Karhutla dan Kekeringan di Ruang Rapat Utama Pemkab Way Kanan, Rabu (26/8/2026).

Rakor dibuka Sekda Way Kanan Machiavelli Herman Tarmizi dan diikuti BPBD, TNI-Polri, perangkat daerah, camat, kepala kampung, dunia usaha, sektor pendidikan dan kesehatan.

Kepala Pelaksana BPBD Way Kanan Sufriyanto menyebut ancaman kekeringan mulai berdampak terhadap ketersediaan air, pertanian, perkebunan dan aktivitas masyarakat.

Dalam periode 2-14 Agustus 2026 tercatat 10 kejadian. Delapan di antaranya berkaitan dengan lahan, termasuk kejadian yang melibatkan lahan dan rumah, sedangkan dua lainnya merupakan kebakaran rumah.

Meski jumlah kejadian disebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah masyarakat terdampak justru meningkat. Kondisi itu menjadi peringatan bahwa risiko bencana belum sepenuhnya terkendali.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BPBD memperkenalkan Lima Gerakan Way Kanan Siaga, yakni Siaga Data, Siaga Kampung, Siaga Air, Siaga Respons dan Siaga Layanan.

Bupati Ayu meminta gerakan tersebut diterapkan secara nyata hingga tingkat kecamatan dan kampung.

“Arah kebijakan kita jelas: CEGAH – SIAGA – RESPON CEPAT,” tegas Ayu.

Menurutnya, karhutla dan kekeringan bukan hanya tanggung jawab BPBD maupun pemadam kebakaran. Seluruh sektor harus terlibat, mulai dari pemerintah kampung, TNI-Polri, perusahaan hingga masyarakat.

Camat dan kepala kampung diminta mengetahui wilayah rawan, sumber air, kesiapan personel serta jalur pelaporan. Perusahaan juga diminta melakukan pencegahan, patroli dan pemadaman awal di wilayah tanggung jawabnya.

Kapolres Way Kanan AKBP Ramadhona mengatakan titik api yang terdeteksi harus segera diverifikasi di lapangan. Ia mengingatkan, api yang sudah dipadamkan belum tentu benar-benar aman karena masih dapat menyisakan bara.

“Walaupun api di suatu titik sudah padam, biasanya ada bara yang masih menyala,” ujarnya.

Sementara Dandim 0427/Way Kanan Letkol Arm Sigit Windarto menyoroti faktor manusia sebagai salah satu penyebab kebakaran, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar.

Ia meminta masyarakat tidak menggunakan api untuk membuka lahan karena berisiko menimbulkan kebakaran meluas dan memiliki konsekuensi hukum.

“Kerja sama saat ini sangat-sangat diperlukan,” tegasnya.

Ayu menambahkan, dampak musim kemarau tidak hanya berupa karhutla. Kekeringan juga dapat memicu krisis air, gangguan kesehatan serta mengganggu sektor pertanian dan perkebunan.

Karena itu, ia meminta setiap sekolah memiliki tim siaga bencana dan SOP kedaruratan. Puskesmas juga diminta menyiapkan tenaga medis, ambulans dan obat-obatan untuk mengantisipasi dampak kesehatan.

“Harus ada tindakan nyata sampai ke tingkat kecamatan, kampung, sekolah, perusahaan dan masyarakat,” kata Ayu.

Ia menegaskan keberhasilan penanganan bencana tidak cukup diukur dari jumlah kebakaran yang terjadi. Kecepatan deteksi, respons, pengerahan sumber daya dan kemampuan melindungi masyarakat juga menjadi ukuran penting “Jangan bekerja sendiri-sendiri,” tegasnya.

Pemkab Way Kanan berharap sinergi lintas sektor dapat membangun Way Kanan Siaga, Kampung Siaga, Sekolah Siaga dan Masyarakat Siaga sehingga risiko karhutla dan kekeringan dapat ditekan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.(ar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *